Jahe & Secang: Racikan TOGA untuk Sendi yang Lebih Ringan
Studi Formulasi untuk Pemberdayaan Desa Joho

Saat sendi mulai protes,
dapur bisa jadi jawabannya.

Ini cerita tentang minuman serbuk dari dua bahan dapur yang itu-itu saja: jahe emprit dan kayu secang. Minuman ini dicoba langsung ke warga untuk membantu meredakan asam urat. Semua datanya kami ceritakan di sini pakai bahasa yang gampang.

11,9% masyarakat Indonesia tercatat mengidap asam urat menurut Riskesdas 2018
Segelas minuman jahe emprit dan kayu secang dengan potongan jahe dan serutan kayu secang
Jahe Emprit × Secang Diseduh hangat
Powder drinksachet TOGA
Kenali dulu musuhnya

Apa sebenarnya asam urat itu?

Gampangnya begini: ada kristal-kristal kecil dan tajam yang menumpuk di sendi, mirip serpihan kaca mini. Tumpukan itulah yang bikin sendi terasa nyeri saat digerakkan. Yuk, kita bahas pelan-pelan.

Ilustrasi asam urat: kristal menumpuk di sendi pangkal jempol kaki, serta kaitannya dengan darah dan ginjal

Muncul mendadak

Tiba-tiba sendi terasa nyeri, bengkak, memerah, dan hangat saat disentuh. Paling sering kena pangkal jempol kaki, tapi lutut, pergelangan tangan, sampai siku juga bisa.

Sumbernya dari dalam

Asam urat itu sisa dari tubuh saat mengolah zat bernama purinZat alami dari sel tubuh dan sebagian makanan, yang jika dipecah tubuh akan menghasilkan asam urat.. Zat ini bisa datang dari tubuh kita sendiri, bisa juga dari makanan yang kita makan.

Kalau dibiarkan

Kalau didiamkan, nyerinya bisa datang berulang, muncul benjolan keras di sendi, sendinya rusak, bahkan lama-lama ginjal ikut terganggu.

Tapi bisa dikendalikan

Kabar baiknya, ini bisa dikendalikan: periksa sejak dini, jaga berat badan, banyak minum air putih, kurangi makanan tinggi purinBanyak ditemukan pada jeroan, makanan laut tertentu, dan minuman beralkohol., dan rajin bergerak.

Angka yang perlu kamu tahu

Dua angka pertama itu batas kadar asam urat yang masih dianggap normal. Angka terakhir adalah jumlah kasus yang pernah tercatat di satu puskesmas.

3,4–7,0
batas normal pria (mg/dL)
2,2–5,7
batas normal wanita (mg/dL)
1.248
kasus tercatat di Puskesmas Tulungagung, 2018

Bukan cerita kecil

Siapa yang paling sering kena?

Ketuk pilihan di bawah untuk melihat angkanya berdasarkan usia atau jenis kelamin, dari data di Indonesia.

35–44 tahundewasa madya
6,3%
24–35 tahundewasa muda
3,1%
15–24 tahunremaja akhir
1,3%

Makin bertambah usia, makin gampang kena. Wajar, karena cara tubuh mengolah makanan dan kebiasaan makan ikut berubah seiring umur. (Rohmah, 2021)

Perempuan
8,46%
Laki-laki
6,13%

Di data nasional ini, ternyata perempuan sedikit lebih banyak yang kena dibanding laki-laki. (Nizar & Zuniawati, 2019)

Seberapa umum di Indonesia?

Berapa banyak orang yang sudah terdiagnosis maupun baru bergejala asam urat, menurut data nasional dan Jawa Timur.

11,9%
penduduk Indonesia terdiagnosis asam urat
24,7%
mengalami gejala mengarah ke asam urat
21,8%
warga Jawa Timur bergejala asam urat (2018)

Dari pekarangan rumah

Dua bahan TOGA, dua peran berbeda

Dua bahannya, jahe emprit dan kayu secang, gampang tumbuh di Desa Joho. Ketuk tiap kartu untuk lihat isi dan cara kerjanya.

Bahan 01

Jahe Emprit

Jahe kecil yang rasanya pedas dan hangat. Biasa dipakai buat wedang, tapi diam-diam juga bisa meredakan radang.

gingerolshogaol

Di dalam jahe ada gingerol dan shogaol. Keduanya menahan kerja enzim COX-2Enzim yang memicu produksi zat pemicu nyeri dan bengkak (prostaglandin) di tubuh., yaitu enzim yang menyuruh tubuh membuat zat pemicu nyeri dan bengkak. Kalau enzim ini ditahan, radang di sendi bisa ikut reda.

Ketuk untuk lihat cara kerjanya
Bahan 02

Kayu Secang

Serutan kayu yang kalau direbus mengeluarkan warna merah pekat. Warna merah itu justru datang dari zat sehat di dalamnya.

brazilinantioksidan

Di dalam secang ada brazilin. Tugasnya menangkap "radikal bebas", yaitu zat perusak sel, sebelum sempat bikin kerusakan. Dengan begitu, radang di sendi akibat kristal asam urat tidak makin parah.

Ketuk untuk lihat cara kerjanya

Ringkasnya, begini alur kerjanya, dari bahan di gelas sampai efeknya terasa di sendi:

Mulai dari bahan Jahe emprit & secang

Semuanya berawal dari jahe emprit dan kayu secang yang diseduh jadi satu minuman hangat.

Lalu muncul senyawa Gingerol, shogaol & brazilin

Dari seduhan itu larut senyawa aktifnya, yaitu gingerol, shogaol, dan brazilin, yang menjadi mesin kerjanya.

Yang mulai bekerja Radang & radikal bebas ditekan

Senyawa tadi menekan enzim pemicu nyeri (COX-2) sekaligus meredam radikal bebas, sehingga peradangan sendi ikut mereda.

Sampai akhirnya Potensi turunkan asam urat

Pada akhirnya kadar asam urat berpotensi ikut turun, selama diminum rutin dan dibarengi pola hidup sehat.


Di balik satu sachet

Resep formulasinya

Satu sachet isinya beberapa bahan, dan tiap bahan punya tugasnya sendiri. Ketuk salah satu bahan untuk melihatnya di lingkaran.

Total Formula Powder 100%

Dari dapur ke kemasan

Lima langkah pembuatannya

Ketuk tiap langkah untuk buka detailnya.

Ambil sari bahannya

Jahe diblender dengan air (1 bagian jahe : 2 bagian air), disaring, lalu didiamkan 1 jam. Kayu secang direbus (1 : 5) di suhu 70–80°C selama 15–20 menit sampai warna merahnya keluar penuh.

70–80°C, 15–20 menit

Campur jadi satu

Air jahe dan air secang dicampur jadi satu di wadah stainless, ditambah sedikit asam sitrat dan garam, lalu diaduk sampai benar-benar larut.

Keringkan jadi lembaran

Campuran tadi diberi maltodekstrin, diratakan di loyang beralas kertas roti, lalu dikeringkan pakai mesin pengering sampai jadi lembaran kering.

50–60°C, 10–12 jam

Haluskan jadi serbuk

Lembaran kering itu digiling lalu diayak supaya jadi serbuk halus yang cepat larut waktu diseduh.

Ayakan 60–80 mesh

Kemas & siap seduh

Serbuk dikemas dalam sachet alumunium foil yang rapat udara, karena serbuk ini gampang menyerap lembap. Cara minumnya: seduh 15–20 gram dengan 150 ml air hangat 80°C.

15–20 g, 150 ml air, suhu 80°C

Coba sendiri

Atur takaran, lihat seduhannya

Geser takaran serbuk untuk 150 ml air hangat 80°C. Warna dan kepekatannya ikut berubah. Anjuran per sajian ada di rentang 15–20 gram.

18 gram serbuk untuk 150 ml air
Pas
10 gencerpekat25 g

80°Csuhu air ideal
150 mltakaran air
15–20 ganjuran per sajian

Diuji langsung ke 13 warga

Apa yang terjadi setelah diminum?

Ada 13 warga yang ikut mencoba. Kadar asam urat mereka dicek sebelum dan sesudah rutin minum. Yuk, lihat perubahannya.

Hasil singkatnya: sesudah minum, tidak ada satu pun warga yang kadarnya naik. Sebagian bertahan di angka yang sama, sebagian lagi turun. Penurunan paling besar dialami satu warga, dari 7,7 turun ke 4,0 mg/dL.
SebelumSesudah
Garis putus-putus itu batas normal (7,0 mg/dL). Di atas garis berarti kadarnya tinggi.
Geser untuk lihat semua peserta
Kadar tinggi
Kadar normal
↓%Persen kadar yang turun
tetapTidak berubah

Ringkasan hasil ujinya

Beberapa angka penting dari uji coba ke 13 warga tadi, mulai dari kondisi awal sampai efek setelah minum.

8 / 13
warga berkadar tinggi di awal
8
warga kadarnya turun sesudah minum
0
warga yang kadarnya justru naik

Soal rasa, jangan ditawar

Seberapa disukai produk ini?

Berapa persen warga yang bilang "sangat suka" untuk tiap hal: bentuk, warna, aroma, rasa, dan teksturnya.

Kesimpulan

Bahan dapur biasa, kalau diracik dengan benar, bisa jadi cara sederhana untuk mencegah asam urat.

Banyak orang belum rutin memeriksakan diri, padahal asam urat cukup sering dijumpai. Setelah diberi penjelasan singkat dan diajak melihat cara membuat produknya, warga jadi lebih paham. Minuman jahe emprit dan secang ini pun disukai, baik dari segi rasa maupun tampilannya. Tapi ingat, untuk benar-benar menurunkan kadar asam urat, minuman ini perlu diminum rutin dan dibarengi pola hidup sehat.

Edukasi meningkatkan kesadaran Tingkat suka rata-rata >75% Perlu konsumsi rutin + gaya hidup sehat
Niwan Jati Kusuma, S.T.
Penulis di PT. Global Nava Industri
Studi Formulasi Powder Drink Kombinasi Jahe Emprit dan Secang pada Pencegahan Asam Urat.

Disusun berdasarkan studi literatur dan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Joho, dengan rujukan antara lain Riskesdas Kemenkes RI 2018, Rohmah (2021), Nizar & Zuniawati (2019), Dwijayanti et al. (2025), dan Intan & Silvia (2021). Halaman ini adalah ringkasan interaktif dari jurnal asli untuk memudahkan pembaca awam.

-